Kamis, 19 Mei 2016

Biografi by Liestya Priskila Silviana


Kenangan Terindah

Liestya Priskila Silviana itulah nama saya, biasa dipanggil Priskila. Saya lahir di kota Rantauprapat, 18 pebruari 2000. Papa saya bernama Kartono dan mama saya bernama Lina. Saat ini saya tinggal di kota Rantauprapat kabupaten Labuhan Batu. Saya berjenis kelamin perempuan. Saya beragama Kristen Protestan. Saya adalah anak bungsu dari dua bersaudara. Abang saya bernama Kelvin Linardo, biasa dipanggil Kelvin. Saya akan menceritakan perjalanan kehidupan saya.

Saya adalah anak yang dilahirkan di kota Rantauprapat. Beberapa bulan setelah saya lahir, keluarga saya pindah ke kota Bekasi. Orang tua saya berwiraswasta di Bekasi. Mereka membuka usaha roti. Di kota Bekasi banyak sekali pengalaman saya. Pada tahun 2004 ketika saya sudah berumur empat tahun, orang tua saya menyekolahkan saya di Santa Maria Monica. Sekolah tersebut ada dari tingkat PAUD, TK, SD, SMP , dan juga SMA. Pada saat itu saya masih TK. Sekolah itu terletak di jalan Karang Satria. Sekolah itu juga sangat dekat dengan perumahan dimana saya tinggal. Saya tinggal di perumahan permata bekasi dua. Saya setiap pagi selalu di antar sampai ke kelas oleh papa saya. Saat tiba di kelas saya sering menangis dan tidak mau masuk ke kelas. Dan saya selalu meminta papa saya untuk mengantarkan saya pulang dan saya tidak mau sekolah. Bagi saya itu adalah hal yang wajar, karena pada saat itu adalah awal saya memulai sekolah dan saya masih merasa asing dengan lingkungan sekitar, apalagi dengan guru. Saya tidak ingin orang tua saya meninggalkan saya saat saya bersekolah. Itulah sebabnya saya sering menangis ketika saya diantar ke sekolah. Hari demi hari papa saya selalu menunggu saya di luar kelas dan hingga suatu saat saya sudah merasa nyaman untuk bersekolah dan saya sudah bisa bergaul dengan guru dan teman-teman saya.

Singkat cerita, pada tahun 2008, saya sudah duduk di bangku sekolah dasar kelas tiga. Umur saya sudah delapan tahun. Saya juga masih bersekolah di Santa Maria Monica. Karena saya sudah tidak anak-anak lagi seperti dulu, saya selalu berjalan kaki ketika ingin pergi ke sekolah. Karena jarak rumah dengan sekolah tidak jauh. Jadi saya tidak perlu merepotkan orang tua saya lagi. Di perumahan yang saya tiempati, ada teman saya yang juga sekolahnya  sama dengan saya. Saya sangat mengenalinya. Dia adalah tetangga saya sejak kecil yang selalu bermain setiap sore di komplek  bersama dengan saya hingga saat ini. Jadi saya tidak sendiri jika ingin pergi ke sekolah, saya selalu pergi dan pulang bersama dengan teman saya.

Di sekolah, saya juga mempunyai banyak teman, tetapi ada satu teman yang bisa mengerti saya. Dia bernama Violin Siahaan. Dia suku batak sedangkan saya suku tiong hua. Walaupun kami berdua berbeda suku, kami tidak pernah saling membeda-bedakan. Kami selalu berbagi cerita bersama. Violin adalah teman yang lucu. Dia suka sekali membuat lelucon dan keributan di kelas. Karena saya adalah teman dekatnya, jadi saya juga ikut keributan di kelas. Kami terkadang menyanyikan lagu ciptaan kami berdua di kelas sambil memukul-mukul meja sesuai dengan lagu yang kami nyanyikan. Kami selalu asyik bersama. Banyak yang mengatakan kalau kami adalah anak yang tomboy pada saat itu. Saat jam istirahat, kami selalu makan bersama. Saya biasanya membaea nasi dari rumah, sedangkan Violin biasanya membeli di kantin. Tetapi kadang saya menyisakan makanan saya setengah untuk dia. Dia juga mau memakannya (hahaha namanya masih anak-anak). Di kelas saya juga termasuk anak yang rajin. Walaupun saya anak yang nakal, tetapi dalam belajar saya tidak pernah ketinggalan. Saya jarang dihukum karena saya selalu rajin mengerjakan PR yang diberikan.  Ada satu mata pelajaran yang sulit bagi saya. Mata pelajaran itu adalah bahasa sunda. Saya tidak pernah mengerti  dengan pelajaran itu. Beruntungnya saya dulu punya kakak pembantu di rumah yang bisa bahasa sunda. Jadi pada saat guru memberikan PR, saya biasa meminta kakak pembantu di rumah saya untuk mengajari saya. Ketika esok harinya dikumpul akhirnya saya bisa juga mendapatkan nilai 80. Hasil yang memuaskan.

Setelah pulang sekolah, saya terkadang membantu mama saya membuat roti. Walaupun ada pembantu, saya tetap membantunya juga karena saya ingin sambil belajar cara membuat roti meskipun saya masih kecil. Tidak hanya itu, kebiasaan saya semasa kecil adalah main-main di komplek dengan teman-teman di sore hari. Teman saya kebanyakkan laki-laki, tetapi ada beberapa yang perempuan. Bagi saya teman laki-laki lebih asyik dan seru daripada teman perempuan. Tetapi saya tetap bergaul dengan mereka semua.

Selain itu, keluarga saya selalu rajin ke gereja setiap minggu. Kami bergereja di gereja GKPB MDC (Masa Depan Cerah) bekasi barat.  Papa saya juga ikut serta dalam pelayanan di gereja. Dia adalah seorang gembala di gereja. Saya dan abang saya selalu rajin ke sekolah minggu. Kakak pembina selalu mengabsen kehadiran anak-anak di sekolah minggu. Kakak pembina selalu memberi  lima token (poin) untuk kehadiran di sekolah minggu dan untuk penilaian lainnya. Ada suatu saat ketika gereja mengadakan suatu acara gabungan antaa gereja MDC bekasi barat dan MDC bekasi timur khusus anak-anak sekolah minggu. Saya menghadiri acara tersebut. Banyak sekali anak-anak sekolah minggu dari gereja lain yang datang ke acara ini. Pada acara ini kami bemain games, bernyanyi lagu pujian dan penyembahan, setelah itu mendengarkan firman dan berdoa. Setelah itu, kakak pembina mengumumkan bahwa dari gereja MDC akan memberikan sertifikat penghargaan dan juga hadiah bagi anak sekolah minggu yang paling rajin datang ke gereja dan terbaik di gerejanya setiap hari minggu. Tak lama setelah itu, nama saya disebutkan untuk maju ke atas panggung untuk diberikan penghargaan itu. Hati saya sangat bangga dan senang sekali. Saya bisa mendapatkan sertifikat dari gereja dan juga hadiah. orang tua saya juga sangat bangga kepada saya.Saya sangat berterima kasih pada saat itu kepada para kakak pembina di sekolah minggu yang telah menilai saya sebagai anak yang terbaik.

Setahun kemudian, saya berumur sembilan tahun dan saya naik kelas empat Sd. Pada tahun ini papa dan abang saya pindah kembali ke kota Rantauprapat karena tugas pelayanan dari gereja. Selain itu, papa saya juga bekerja di sekolah Tunas Harapan Mandiri. Pada waktu itu, saya dan mama dan tante saya masih di bekasi.  Saya juga tetap bersekolah di Santa Maria Monica dan melakukan proses belajar seperti biasa. Hingga setahun kemudian papa saya kembali ke bekasi untuk menjemput saya dan mama saya. inilah saat-saat yang menyedihkan bagi saya, dimana saya harus berpisah dengan teman-teman saya dan juga guru-guru. Saya merasa kehilangan dengan beberapa teman saya, seperti Violin, Angel, Bulan, dan teman saya lainnya.

Foto kenangan terakhir saya bersama wali kelas dan teman-teman saya.


















Kami pindah ke Rantauprapat dengan menggunakan mobil pribadi. Kami berempat (papa, mama, tante, dan saya sendiri). Saya sangat menikmati perjalanan tersebut, karena baru pertama kalinya menggunakan mobil pulang ke Rantauprapat. Di dalam perjalanan banyak hal yang kami lihat. Kami juga melewati beberapa kota besar, seperti kota Bandar Lampung, Palembang, Jambi, dan Pekan baru. Selama tiga hari perjalanan kami tiba ke kota Rantauprapat.

Di Rantauprapat, saya bersekolah di Tunas Harapan Mandiri. Saat ini saya sudah kelas lima sd. Saat saya berangkat ke sekolah, saya bertemu dengan dua teman. Pada saat itu, masih hanya mereka berdua di kelas karena pada saat itu masih pagi sekali. Mereka adalah anak kembar. Namanya Tasya dan Tania. Mereka adalah teman yang paling dahulu saya kenal. Karena pada saat itu papa saya juga langsung memperkenalkan saya kepada mereka.  Tak lama kemudian, mulai banyak teman yang datang. Awal saya menjadi anak baru di kelas itu, saya harus beradaptasi dengan lingkungan yang jauh beda dengan lingkungan di bekasi. Saya harus beradaptasi dengan gaya bahasanya dan logatnya yang membuat saya sulit untuk mengerti, tapi saya berusaha untuk mengerti agar bisa beradaptasi dengan teman-teman yang baru. Dan di sini pun teman-teman begitu baik kepada saya.

Setelah saya lulus dari Sd pada tahun 2012, saya melanjutkan sekolah menengah pertama (SMP)  juga di sekolah Tunas Harapan Mandiri. Yang saya rasakan ketika saya memasuki kelas 7 yaitu bertambahnya mata pelajaran yang tadinya tidak ada di sekolah dasar, yaitu kimia dan fisika. Saya terus menjalani proses belajar. Awal saya menghadapi ujian saya mendapatkan juara delapan dari 22 orang. Saya terus berjuang dan belajar keras untuk meraih prestasi yang terbaik. Suatu saat saya menghadapi ujian kenaikkan kelas , ketika pembagian raport akhirnya saya melihat bahwa peringkat saya menaik, saya bisa meraih juara satu. Saya sangat bangga sekali bisa mendapat juara satu meskipun jumlah murid di kelas saya tidak terlalu banyak.

Setahun kemudian saya sudah kelas 8. Kelas 8 adalah masa-masa yang istimewa bagi saya. Masa dimana keseruan dalam kelas sudah mulai kelihatan. Kami sudah mengenal satu dengan yang lain sejak SMP kelas 7. Kami belajar bersama dan kami juga bercanda tawa bersama. Hingga suatu saat,  saya dan tiga teman saya (Mayko,Steven,Chentaca) ditunjuk untuk mengikuti olimpiade. Saya dipilih untuk mengikuti olimpiade biologi. Pada saat itu, saya dan tiga teman saya yang juga mengikuti olimpiade lainnya tidak ada yang menang. Tetapi itulah hasil kerja keras kami. Kami telah berusaha semampu kami. Saya sangat bangga dan senang mengikuti olimpiade inikarena sangat menambah pengalaman saya. Kami tetap diberi piagam penghargaan atas keikutsertaan kami dalam olimpiade. Dan kedepannya saya akan belajar dari kegagalan saya. Karena kegagalan adalah awal dari kesuksesan. Saya akan belajar lebih keras lagi agar suatu saat dapat meraih prestasi yang lebih baik.

Setelah saya sudah naik kelas 9, ada suatu acara dari sekolah bernama TOASTMASTER. Acara ini diadakan di parapat.Toastmaster adalah suatu praktek (latihan) dimana seseorang berkesempatan untuk meningkatkan kepercayaan dirinya dalam berkomunikasi dan berkepemimpinan. Saya dan teman-teman lainnya mengikuti acara ini. Acara ini sangat membangun dan bermanfaat bagi saya. Dalam setiap kelompok yang sudah dibagi, saya menjalani setiap sesinya. Dimulai dari pelatihan perkenalan diri di depan kelompok, bergantian memimpin kelompok, hingga berkomunikasi di depan kelompok. Sebelumnya saya sangat tidak percaya diri, tetapi setelah setiap sesi saya jalani saya merasa bahwa dalam pelatihan ini membawa banyak perubahan dalam diri saya. Saya menjadi percaya diri daripada sebelumnya. Hingga sesi terakhir,setiap tim toastmaster di masing-masing kelompok harus memilih seorang di kelompoknya untuk tampil ke depan menceritakan satu tema yang nantinya akan di berikan oleh ketua toastmaster. Tak disangka, saya yang dipilih oleh tim toastmaster yang melatih saya pada kelompok itu untuk  tampil ke depan nantinya. Esok harinya, setelah giliran saya untuk maju, saya mendapat tema “cita-cita”. Saya berdiri di hadapan banyak orang. Semua mata tertuju pada saya. Saat itu tidak ada rasa grogi dan malu pada diri saya. Saya ceritakan sesuai dengan tema hingga saya akhiri cerita itu. Banyak sekali orang yang bertepuk tangan. Saya merasa bangga pada diri saya. Saya tidak sia-sia mengikuti acara toastmaster ini. Saya juga mendapatkan sertifikat dari toastmaster. Ini adalah pengalaman yang sangat tak terlupakan dalam hidup saya. Saya menyadari bahwa saya bisa tampil beda setelah saya mengikuti acara ini.  

Foto pada saat latihanToastmaster


Singkat cerita saya sudah memasuki sekolah menengah atas(SMA). Saya tidak lagi bersekolah di Tunas Harapan Mandiri, karena sekolah itu hanya ada sampai SMP saja. Saya melanjutkan SMA saya di sekolah Methodist 2 Rantauprapat, dimana saya bersekolah sekarang ini. Saat ini saya sudah berumur 16 tahun. Saya mengharapkan yang terbaik kedepannya dalam diri saya. Saya akan berjuang dalam menghadapi segala rintangan sampai tercapainya tujuan dalam hidup saya.

Demikianlah sepenggal kisah hidup saya.Semoga kisah ini dapat membuat teman-teman mengenal akan diri saya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar