Liestya
Priskila Silviana itulah nama saya, biasa dipanggil Priskila. Saya lahir di
kota Rantauprapat, 18 pebruari 2000. Papa saya bernama Kartono dan mama saya
bernama Lina. Saat ini saya tinggal di kota Rantauprapat kabupaten Labuhan
Batu. Saya berjenis kelamin perempuan. Saya beragama Kristen Protestan. Saya
adalah anak bungsu dari dua bersaudara. Abang saya bernama Kelvin Linardo,
biasa dipanggil Kelvin. Saya akan menceritakan perjalanan kehidupan saya.
Saya
adalah anak yang dilahirkan di kota Rantauprapat. Beberapa bulan setelah saya
lahir, keluarga saya pindah ke kota Bekasi. Orang tua saya berwiraswasta di
Bekasi. Mereka membuka usaha roti. Di kota Bekasi banyak sekali pengalaman
saya. Pada tahun 2004 ketika saya sudah berumur empat tahun, orang tua saya
menyekolahkan saya di Santa Maria Monica. Sekolah tersebut ada dari tingkat
PAUD, TK, SD, SMP , dan juga SMA. Pada saat itu saya masih TK. Sekolah itu
terletak di jalan Karang Satria. Sekolah itu juga sangat dekat dengan perumahan
dimana saya tinggal. Saya tinggal di perumahan permata bekasi dua. Saya setiap
pagi selalu di antar sampai ke kelas oleh papa saya. Saat tiba di kelas saya
sering menangis dan tidak mau masuk ke kelas. Dan saya selalu meminta papa saya
untuk mengantarkan saya pulang dan saya tidak mau sekolah. Bagi saya itu adalah
hal yang wajar, karena pada saat itu adalah awal saya memulai sekolah dan saya
masih merasa asing dengan lingkungan sekitar, apalagi dengan guru. Saya tidak
ingin orang tua saya meninggalkan saya saat saya bersekolah. Itulah sebabnya
saya sering menangis ketika saya diantar ke sekolah. Hari demi hari papa saya
selalu menunggu saya di luar kelas dan hingga suatu saat saya sudah merasa
nyaman untuk bersekolah dan saya sudah bisa bergaul dengan guru dan teman-teman
saya.
Singkat
cerita, pada tahun 2008, saya sudah duduk di bangku sekolah dasar kelas tiga.
Umur saya sudah delapan tahun. Saya juga masih bersekolah di Santa Maria
Monica. Karena saya sudah tidak anak-anak lagi seperti dulu, saya selalu
berjalan kaki ketika ingin pergi ke sekolah. Karena jarak rumah dengan sekolah
tidak jauh. Jadi saya tidak perlu merepotkan orang tua saya lagi. Di perumahan
yang saya tiempati, ada teman saya yang juga sekolahnya sama dengan saya. Saya sangat mengenalinya.
Dia adalah tetangga saya sejak kecil yang selalu bermain setiap sore di komplek
bersama dengan saya hingga saat ini.
Jadi saya tidak sendiri jika ingin pergi ke sekolah, saya selalu pergi dan pulang
bersama dengan teman saya.
Di
sekolah, saya juga mempunyai banyak teman, tetapi ada satu teman yang bisa
mengerti saya. Dia bernama Violin Siahaan. Dia suku batak sedangkan saya suku
tiong hua. Walaupun kami berdua berbeda suku, kami tidak pernah saling
membeda-bedakan. Kami selalu berbagi cerita bersama. Violin adalah teman yang
lucu. Dia suka sekali membuat lelucon dan keributan di kelas. Karena saya
adalah teman dekatnya, jadi saya juga ikut keributan di kelas. Kami terkadang
menyanyikan lagu ciptaan kami berdua di kelas sambil memukul-mukul meja sesuai
dengan lagu yang kami nyanyikan. Kami selalu asyik bersama. Banyak yang
mengatakan kalau kami adalah anak yang tomboy pada saat itu. Saat jam
istirahat, kami selalu makan bersama. Saya biasanya membaea nasi dari rumah,
sedangkan Violin biasanya membeli di kantin. Tetapi kadang saya menyisakan
makanan saya setengah untuk dia. Dia juga mau memakannya (hahaha namanya masih
anak-anak). Di kelas saya juga termasuk anak yang rajin. Walaupun saya anak yang
nakal, tetapi dalam belajar saya tidak pernah ketinggalan. Saya jarang dihukum
karena saya selalu rajin mengerjakan PR yang diberikan. Ada satu mata pelajaran yang sulit bagi saya.
Mata pelajaran itu adalah bahasa sunda. Saya tidak pernah mengerti dengan pelajaran itu. Beruntungnya saya dulu
punya kakak pembantu di rumah yang bisa bahasa sunda. Jadi pada saat guru
memberikan PR, saya biasa meminta kakak pembantu di rumah saya untuk mengajari
saya. Ketika esok harinya dikumpul akhirnya saya bisa juga mendapatkan nilai
80. Hasil yang memuaskan.
Setelah
pulang sekolah, saya terkadang membantu mama saya membuat roti. Walaupun ada
pembantu, saya tetap membantunya juga karena saya ingin sambil belajar cara
membuat roti meskipun saya masih kecil. Tidak hanya itu, kebiasaan saya semasa
kecil adalah main-main di komplek dengan teman-teman di sore hari. Teman saya
kebanyakkan laki-laki, tetapi ada beberapa yang perempuan. Bagi saya teman
laki-laki lebih asyik dan seru daripada teman perempuan. Tetapi saya tetap bergaul
dengan mereka semua.
Selain
itu, keluarga saya selalu rajin ke gereja setiap minggu. Kami bergereja di
gereja GKPB MDC (Masa Depan Cerah) bekasi barat. Papa saya juga ikut serta dalam pelayanan di
gereja. Dia adalah seorang gembala di gereja. Saya dan abang saya selalu rajin
ke sekolah minggu. Kakak pembina selalu mengabsen kehadiran anak-anak di
sekolah minggu. Kakak pembina selalu memberi
lima token (poin) untuk kehadiran di sekolah minggu dan untuk penilaian
lainnya. Ada suatu saat ketika gereja mengadakan suatu acara gabungan antaa
gereja MDC bekasi barat dan MDC bekasi timur khusus anak-anak sekolah minggu.
Saya menghadiri acara tersebut. Banyak sekali anak-anak sekolah minggu dari
gereja lain yang datang ke acara ini. Pada acara ini kami bemain games,
bernyanyi lagu pujian dan penyembahan, setelah itu mendengarkan firman dan
berdoa. Setelah itu, kakak pembina mengumumkan bahwa dari gereja MDC akan
memberikan sertifikat penghargaan dan juga hadiah bagi anak sekolah minggu yang
paling rajin datang ke gereja dan terbaik di gerejanya setiap hari minggu. Tak
lama setelah itu, nama saya disebutkan untuk maju ke atas panggung untuk
diberikan penghargaan itu. Hati saya sangat bangga dan senang sekali. Saya bisa
mendapatkan sertifikat dari gereja dan juga hadiah. orang tua saya juga sangat
bangga kepada saya.Saya sangat berterima kasih pada saat itu kepada para kakak
pembina di sekolah minggu yang telah menilai saya sebagai anak yang terbaik.
Setahun
kemudian, saya berumur sembilan tahun dan saya naik kelas empat Sd. Pada tahun
ini papa dan abang saya pindah kembali ke kota Rantauprapat karena tugas
pelayanan dari gereja. Selain itu, papa saya juga bekerja di sekolah Tunas
Harapan Mandiri. Pada waktu itu, saya dan mama dan tante saya masih di bekasi. Saya juga tetap bersekolah di Santa Maria
Monica dan melakukan proses belajar seperti biasa. Hingga setahun kemudian papa
saya kembali ke bekasi untuk menjemput saya dan mama saya. inilah saat-saat
yang menyedihkan bagi saya, dimana saya harus berpisah dengan teman-teman saya
dan juga guru-guru. Saya merasa kehilangan dengan beberapa teman saya, seperti
Violin, Angel, Bulan, dan teman saya lainnya.
Kami pindah ke Rantauprapat dengan menggunakan mobil pribadi. Kami berempat (papa, mama, tante, dan saya sendiri). Saya sangat menikmati perjalanan tersebut, karena baru pertama kalinya menggunakan mobil pulang ke Rantauprapat. Di dalam perjalanan banyak hal yang kami lihat. Kami juga melewati beberapa kota besar, seperti kota Bandar Lampung, Palembang, Jambi, dan Pekan baru. Selama tiga hari perjalanan kami tiba ke kota Rantauprapat.
Di
Rantauprapat, saya bersekolah di Tunas Harapan Mandiri. Saat ini saya sudah
kelas lima sd. Saat saya berangkat ke sekolah, saya bertemu dengan dua teman. Pada
saat itu, masih hanya mereka berdua di kelas karena pada saat itu masih pagi
sekali. Mereka adalah anak kembar. Namanya Tasya dan Tania. Mereka adalah teman
yang paling dahulu saya kenal. Karena pada saat itu papa saya juga langsung
memperkenalkan saya kepada mereka. Tak
lama kemudian, mulai banyak teman yang datang. Awal
saya menjadi anak baru di kelas itu, saya harus beradaptasi dengan lingkungan
yang jauh beda dengan lingkungan di bekasi. Saya harus beradaptasi dengan gaya
bahasanya dan logatnya yang membuat saya sulit untuk mengerti, tapi saya
berusaha untuk mengerti agar bisa beradaptasi dengan teman-teman yang baru. Dan
di sini pun teman-teman begitu baik kepada saya.
Setelah
saya lulus dari Sd pada tahun 2012, saya melanjutkan sekolah menengah pertama
(SMP) juga di sekolah Tunas Harapan
Mandiri. Yang saya rasakan ketika saya memasuki kelas 7 yaitu bertambahnya mata
pelajaran yang tadinya tidak ada di sekolah dasar, yaitu kimia dan fisika. Saya
terus menjalani proses belajar. Awal saya menghadapi ujian saya mendapatkan
juara delapan dari 22 orang. Saya terus berjuang dan belajar keras untuk meraih
prestasi yang terbaik. Suatu saat saya menghadapi ujian kenaikkan kelas ,
ketika pembagian raport akhirnya saya melihat bahwa peringkat saya menaik, saya
bisa meraih juara satu. Saya sangat bangga sekali bisa mendapat juara satu
meskipun jumlah murid di kelas saya tidak terlalu banyak.
Setahun
kemudian saya sudah kelas 8. Kelas 8 adalah masa-masa yang istimewa bagi saya.
Masa dimana keseruan dalam kelas sudah mulai kelihatan. Kami sudah mengenal
satu dengan yang lain sejak SMP kelas 7. Kami belajar bersama dan kami juga bercanda
tawa bersama. Hingga suatu saat, saya
dan tiga teman saya (Mayko,Steven,Chentaca) ditunjuk untuk mengikuti olimpiade.
Saya dipilih untuk mengikuti olimpiade biologi. Pada saat itu, saya dan tiga
teman saya yang juga mengikuti olimpiade lainnya tidak ada yang menang. Tetapi
itulah hasil kerja keras kami. Kami telah berusaha semampu kami. Saya sangat
bangga dan senang mengikuti olimpiade inikarena sangat menambah pengalaman
saya. Kami tetap diberi piagam penghargaan atas keikutsertaan kami dalam
olimpiade. Dan kedepannya saya akan belajar dari kegagalan saya. Karena
kegagalan adalah awal dari kesuksesan. Saya akan belajar lebih keras lagi agar
suatu saat dapat meraih prestasi yang lebih baik.
Setelah
saya sudah naik kelas 9, ada suatu acara dari sekolah bernama TOASTMASTER.
Acara ini diadakan di parapat.Toastmaster adalah suatu praktek (latihan) dimana
seseorang berkesempatan untuk meningkatkan kepercayaan dirinya dalam
berkomunikasi dan berkepemimpinan. Saya dan teman-teman lainnya mengikuti acara
ini. Acara ini sangat membangun dan bermanfaat bagi saya. Dalam setiap kelompok
yang sudah dibagi, saya menjalani setiap sesinya. Dimulai dari pelatihan
perkenalan diri di depan kelompok, bergantian memimpin kelompok, hingga
berkomunikasi di depan kelompok. Sebelumnya saya sangat tidak percaya diri,
tetapi setelah setiap sesi saya jalani saya merasa bahwa dalam pelatihan ini
membawa banyak perubahan dalam diri saya. Saya menjadi percaya diri daripada
sebelumnya. Hingga sesi terakhir,setiap tim toastmaster di masing-masing
kelompok harus memilih seorang di kelompoknya untuk tampil ke depan
menceritakan satu tema yang nantinya akan di berikan oleh ketua toastmaster.
Tak disangka, saya yang dipilih oleh tim toastmaster yang melatih saya pada
kelompok itu untuk tampil ke depan
nantinya. Esok harinya, setelah giliran saya untuk maju, saya mendapat tema
“cita-cita”. Saya berdiri di hadapan banyak orang. Semua mata tertuju pada
saya. Saat itu tidak ada rasa grogi dan malu pada diri saya. Saya ceritakan
sesuai dengan tema hingga saya akhiri cerita itu. Banyak sekali orang yang
bertepuk tangan. Saya merasa bangga pada diri saya. Saya tidak sia-sia
mengikuti acara toastmaster ini. Saya juga mendapatkan sertifikat dari
toastmaster. Ini adalah pengalaman yang sangat tak terlupakan dalam hidup saya.
Saya menyadari bahwa saya bisa tampil beda setelah saya mengikuti acara ini.
| Foto pada saat latihanToastmaster |
Singkat
cerita saya sudah memasuki sekolah menengah atas(SMA). Saya tidak lagi
bersekolah di Tunas Harapan Mandiri, karena sekolah itu hanya ada sampai SMP
saja. Saya melanjutkan SMA saya di sekolah Methodist 2 Rantauprapat, dimana
saya bersekolah sekarang ini. Saat ini saya sudah berumur 16 tahun. Saya
mengharapkan yang terbaik kedepannya dalam diri saya. Saya akan berjuang dalam
menghadapi segala rintangan sampai tercapainya tujuan dalam hidup saya.
Demikianlah
sepenggal kisah hidup saya.Semoga kisah ini dapat membuat teman-teman mengenal
akan diri saya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar